Dalam Menolong Ada Kebahagiaan

Dalam Menolong Ada Kebahagiaan

Dalam Menolong Ada Kebahagiaan

 

Sebagai seorang supir pribadi

ayahku banyak menyaksikan majikannya yang kaya raya secara diam-diam memberikan uang kepada banyak orang untuk membantu mereka.
Pada suatu hari, ayah mengantar majikannya ke sebuah kota lain untuk menghadiri sebuah pertemuan bisnis. Sebelum masuk ke kota itu, mereka berhenti di sebuah restoran untuk makan sandwich sebagai ganti santap siang. Ketika mereka sedang makan, ada beberapa anak tengah berlari sambil menggelindingkan sebuah roda yang terbuat dari kaleng. Salah satu di antara anak-anak itu tampak pincang, dan setelah memperhatikannya lebih dekat, majikan ayahku tahu bahwa ia menderita club foot. Ia lalu menghentikan anak itu dan bertanya.”Apakah kakimu membuatmu susah?”
“Ya, lariku memang terhambat karenanya,” sahut anak itu. ”Dan aku harus memotong sepatuku agar enak dipakai. Mengapa anda bertanya hal ini?”
“Hmm, aku ingin membantu membetulkan kakimu, apakah kamu mau?”

“Tentu saja,” jawab anak itu penuh semangat.

Majikan ayahku lalu mencatat nama anak itu dan lalu membiarkanya pergi. Setelah berada di mobil, ia berkata kepada ayahku, “Woody, anak yang pincang itu bernama Jimmy, dan umurnya delapan tahun. Coba kau cari tahu di mana ia tinggal serta siapa orang tuanya!”
Ia lalu menyerahkan kepada ayahku secarik kertas yang bertuliskan nama anak tadi. “Temui orang tua anak itu siang ini juga, dan lakukan yang terbaik untuk mendapatkan izin dari orang tuanya agar aku dapat mengusahakan operasinya. Urusan administrasinya biar besok saja. Katakan, aku yang menanggung seluruh biayanya.”
Ternya tidak sulit menemukan alamat rumah Jimmy, karena banyak orang yang mengenalnya. Jimmy tinggal di sebuah rumah yang sudah harus di cat ulang dan diperbaiki. Ketika memandang ke sekeliling, ayahku melihat baju compang-camping dan bertambal-tambal dijemur pada seutas tali di samping rumah.
Seorang wanita usia tiga puluh limaan membuka pintu yang engselnya sudah berkarat saat ayahku menegtuk. Wanita itu tampak kelelahan, dan tampangnya menunjukkan bahwa hidupnya terlalu keras. ”Selamat siang nyonya, apakah anda ibunya Jimmy?”

Wanita itu agak mengerutkan dahinya sebelum menyahut.

”Ya, apakah ia bermasalah?” ucapnya sambil matanya menatap ke arah seragam ayahku yang rapi.
“Tidak, Saya ke sini mewakili seseorang yang sangat kaya raya dan ingin membantu mengobati kaki anak Anda agar dapat bermain seperti teman-temannya yang lain.”
“Apa-apaan ini, jangan bercanda? Tak ada yang gratis dalam hidup ini.”
“Saya tidak bercanda, biarkan saya menjelaskannya dulu kepada Anda dan suami Anda jika ia sekarang ada di rumah. Saya tahu ini mengejutkan, saya tidak menyalahkan bila Anda merasa curiga.”
Wanita itu lalu menatap ayahku sekali lagi, dan masih dengan ragu-ragu ia mempersilahkannya masuk. “Henry,” serunya ke arah dapur, “Ke mari dan bicaralah dengan orang ini. Katanya ia ingin menolong membetulkan kaki Jimmy.”
Selama hampir satu jam, ayahku menguraikan rencana itu dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. “Apabila Anda mengizinkan Jimmy menjalani operasi, saya akan mengirimkan surat-suratnya untuk Anda tandatangani. Sekali lagi, kami yang akan menanggung seluruh biayanya.”
Masih belum bebas dari rasa terkejut, orang tua Jimmy saling berpandangan. Tampaknya mereka masih belum yakin. ”Ini kartu nama saya. Saya akan menyertakan sebuah surat kalau nanti saya mengirimkan dokumen-dokumen perizinan. Semua yang telah kita bicarakan akan saya tuliskan dalam surat itu. Andai kata masih ada pertanyaan, telepon atau tulis surat ke alamat ini.” Ucap ayahku sebelum ia berpamitan kepada orangtua jimmy.
Belakangan majikan ayahku menghubungi walikota, meminta agar seseorang dikirim ke rumah Jimmy guna meyakinkan keluarga itu bahwa tawaran tersebut tidak melanggar hukum. Tentu saja, nama sang dermawan tidak disebutkan. Tidak lama kemudian, dengan surat-surat perizinan yang telah ditandatangani, ayahku membawa Jimmy ke sebuah rumah sakit mewah di negara bagian lain untuk yang pertama dari lima operasi pada kakinya.
Operasi-operasi itu sukses. Jimmy menjadi anak paling disukai oleh para perawat di bangsal ortopedi rumah sakit itu. Air mata dan peluk cium seperti tak ada habisnya ketika ia akhirnya harus meninggalkan rumah sakit itu.
Mereka memberikannya sebuah kenang-kenangan, sebagai tanda syukur dan peduli mereka, yaitu sepasang sepatu baru yang dibuat khusus untuk kaki ‘baru’nya. Jimmy dan ayahku menjadi sangat akrab karena sekian kali mengantarnya pulang dan pergi ke rumah sakit. Pada kebersamaan mereka yang terakhir, mereka bernyanyi-nyanyi, dan berbincang tentang apa yang akan diperbuat oleh Jimmy dengan kaki yang sudah normal.
Sebuah senyum membanjiri wajah Jimmy ketika mereka tiba di rumah dan ia melangkah turun dari mobil. Orangtua dan dua saudara laki-lakinya berdiri berjajar di beranda rumah yang sudah tua itu. “Diam di sana,” seru Jimmy kepada mereka. Mereka memandang dengan takjub ketika Jimmy berjalan ke arah mereka dengan langkah yang sudah tidak pincang lagi.
Peluk, cium dan senyum seakan tak ada habisnya untuk menyambut anak yang kakinya telah “dibetulkan” itu. Orang tuanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum ketika memandangnya. Mereka masih tidak bisa percaya ada orang yang belum pernah mereka kenal mengeluarkan uang begitu banyak untuk membetulkan kaki seorang anak laki-laki yang juga tidak dikenalnya.
Dermawan yang kaya raya itu melepas kacamata dan mengusap air matanya ketika ia mendengar cerita tentang anak yang pulang ke rumah itu. ”Kerjakan satu hal lagi,” katanya, “Menjelang tahun baru, hubungi sebuah toko sepatu yang baik. Minta mereka untuk mengirim undangan kepada setiap anggota keluarga Jimmy agar datang ke toko itu dan memilih sepatu yang mereka inginkan. Aku yang akan membayar semuanya, dan beritahu mereka bahwa aku melakukan ini hanya kali ini saja, aku tidak ingin mereka menjadi tergantung kepadaku.”
Jimmy pun akhirnya menjadi seorang pengusaha sukses sampai ia meninggal beberapa tahun yang lalu. Sepengetahuanku, Jimmy tidak pernah tahu siapa yang membiayai operasi kakinya.
Dan ada satu hal yang sangat ku ingat dalam cerita ayahku itu. Majikannya Mr. HENRY FORD, selalu mengatakan lebih menyenangkan berbuat sesuatu untuk orang yang tidak tahu siapa yang telah melakukannya.”

Baca Juga :