.H. Zainal Mustafa dan Pertempuran Tasikmalaya

.H. Zainal Mustafa dan Pertempuran Tasikmalaya

.H. Zainal Mustafa dan Pertempuran Tasikmalaya

Tujuh puluh lima tahun lalu, keadaan di Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya

sedang genting.  Tepatnya pada 25 Februari 1944, Para santri di Singaparna yang dipimpin oleh K.H. Zainal Mustafa melakukan perlawanan kepada militer Jepang yang saat itu menduduki wilayah Indonesia. Pertempuran tersebut pun dikenal dengan pertempuran singaparna.

Dilansir beritagar.id, semua bermula ketika Jepang menduduki Indonesia setelah kolonial Belanda menyerah tanpa syarat melalui perjanjian Kalijati. Berbeda dengan Belanda, Jepang memiliki strategi berbeda guna menguasai Indonesia.

Alih-alih menyerang melalui kekuatan militer, Jepang lebih memilih cara propoganda guna mengambil hati pribumi. Salah satu caranya adalah membebaskan semua tahanan politik Hindia Belanda, yang salah satunya adalah ulama sekaligus pemimpin pondak pesantren, K.H. Zainal Mustafa.

Menolak Seikerei

Setelah membebaskan K.H. Zainal Mustafa,pihak Jepang mencoba merayunya menduduki

jabatan anggota Sandenbu (Badan Propaganda) di Priangan Timur. Namun strategi yang dilakukan Jepang menemui jalan buntu. Sebagai pemimpin yang diikuti hampir seluruh santri di Tasikmalaya dan Priangan timur, Kiyai yang pernah menjadi santri di Sukamiskin tersebut menolak ajakan Jepang.

Beliau menolak bekerja sama karena alasan adanya ketentuan Seikerei, yaitu sikap membungkuk ke arah timur di pagi hari sebagai penghormatan terhadap Kaisar Jepang (Tenno Haika). Gerakan Seikerei mirip gerakan ruku’ dalam shalat.Tidak hanya sebagai penghormatan, Seikerei juga sebagai pengakuan bahwa Kaisar Jepang adalah keturunan “Dewa Matahari” (Ameterasu). Dalam ajaran Islam tindakan itu berarti musyrik.

Akibat dari penolakan tersebut,  Jepang menempatkan polisi rahasia (Kenpeitai) untuk mengawasi kegiatan Pesantren Sukamanah dan KH Zainal Mustafa.

Aiko Kurasawa dalam Mobilisasi dan Kontrol; Studi tentang Perubahan Sosizl Pedesaan di Jawa 1942-945, dengan mengutip Sjarif Hidajat menyatakan, kegeraman KH Zainal Mustafa terhadap Jepang mulai muncul tidak lama setelah Tentara ke-16 Kekaisaran Jepang menduduki wilayah Jawa dan membentuk pemerintahan militer. Disebutkan pada tahun 1943 KH Zainal Mustafa diam-diam melakukan persiapan perlawanan. Untuk tujuan ini, telah dilakukan kontak dengan beberapa pesantren di Tasikmalaya.

Selain itu juga dilakukan hubungan dengan kesatuan batalyon PETA (Pembela Tanah Air)

yang dipimpin Daidancho Maskun. Nama terakhir ini disebut memiliki hubungan yang erat dengan Pesantren Sukamanah yang dipimpin KH Zainal Mustafa. Daidanco Maskun berjanji bahwa ia dan anak buahnya akan datang ke Sukamanah/Cimerah untuk memberi latihan militer untuk para santri. Rupanya hubungan dan rencana itu tercium pihak Jepang. Tidak lama kemudian kesatuan tentara PETA dipindahkan ke bagian selatan wilayah Tasikmalaya.

KH Zainal Mustafa pun tahu persis pihak Jepang telah dan selalu mengawasinya bahkan mengancamnya. Meski begitu suara-suara keras tetap saja ditujukan kepada Jepang. Beliau dan para santri siap dengan semua kemungkinan. Persiapan yang dilakukan adalah membentuk barisan santri dan rakyat untuk melindungi area pesantren. Jumlahnya sebanyak 509 orang.

Perlawanan Hari Jumat

Pada 23 Februari 1944 Jepang mengirim utusan ke pesantren. Mereka mengancam KH Zainal Mustafa, para santri, dan penduduk desa. Esoknya, 24 Februari, Jepang mengerahkan pasukan Kempetai yang dipimpin pejabat lokal yang memihak Jepang seperti Camat Cakrawilaksana, Sastramaun (Lurah Cimerah), Suhandi (juru tulis), dan Muhri (Kepala Kampung Punduh). Mereka ingin meringkus KH Zainal Mustafa.

Terjadi bentrok fisik dengan para santri. Senjata-senjata Jepang berhasil direbut yaitu 12 senapan, 3 pucuk pistol, dan 25 senjata tajam.Senjata-senjata itu disimpan dan tidak digunakan. KH Zainal Mustafa sadar, Jepang pasti akan datang lagi dengan kekuatan yang lebih besar.

Pada 25 Februari 1944 sebelum pelaksanaan Shalat Jum’at, KH Zainal Mustafa menyampaikan hal itu, kemudian memberi kebebasanpilihan jika ada santri memilih mengundurkan diri atau pulang ke kampung masing-masing. Semua santri ternyata lebih memilih ikut melawan.

Saat khutbah Jum’at, Jepang mengepung rapat pesantren dan masjid. KH Zainal Mustafa meminta jamaah tenang dan menyelesaikan Shalat Jum’at.Setelah itu ditemuinya pasukan Kempeitai di Gunung Bentang. Seorang perwira Jepang minta agar berbicara di masjid. Tapi ketika bicara, nadanya begitu congkak sambil mengancam KH Zainal Mustafa akan dihukum berat.

Setelah itu perwira Jepang itu membujuk lagi; KH Zainal Mustafa tidak akan dihukum asal mau minta ampun. Jamaah pun tersinggung karena perkataan perwira Jepang, bahwa jika satu orang Jepang mati maka harus ditebus seribu nyawa orang Indonesia. Suasana pun berubah gaduh, dan Jepang telah bersiap.Saat itu juga KH Zainal Mustafa mengeluarkan komando perlawanan. Perkelahian pun pecah!

Dalam perkelahian di persawahan, tiga polisi Jepang tewas dan satu melarikan diri. Melihat ini Jepang pun marah besar. Selanjutnya dikirim 6 kompi tentara,dan Desa Sukamanah pun dikepung dari tiga arah; selatan, timur, dan utara. Menjelang Ashar, Jepang dengan menggunakan kendaran lapis baja berusaha menerjang pesantren. Mereka juga sengaja memaksa beberapa penduduk desa berdiri di barisan depan.

Cara licik ini membuat para santri menjadi ragu karena berhadapan dengan rakyat sendiri. Melihat hal ini KH Zainal Mustafa memerintahkan untuk tidak melakukan perlawanan dulu.

Karena kalah senjata, KH Zainal Mustafa dan para santrimundur pada menjelang malam. Tentara Jepang selanjutnya merangsek ke pesantren. Mertua KH Zainal Mustafa,H. Syamsuddin, dibunuh Jepang di tempat itu.

Malam itu juga,KH Zainal Mustafa yang mundur ke Kampung Cihaur,ditangkap bersama dengan Kyai Najamuddin, Kyai Umar, Domon, A. Hidayat, serta 27 santri.Dari 26-29 Februari 1944 banyak penduduk desa disekitar pesantren yang ditangkap tentara Jepang.

Penjara Tasikmalaya menjadi penuh, dan KH Zainal Mustafa sendiri menjalani proses interogasi selama 3 bulan. Interogasi itu dilakukan dengan siksaan-siksaan berat. Setelah itu, keberadaannya tidak jelas karena KH Zainal Mustafa dipindahkan ke Cipinang, Jakarta. Meski demikian, secara politik, akibat yang ditimbulkan dari meletusnya perlawanan itu membuat pemerintah militer (Gunseikan-bu) Jepang di Jakarta merasa was-was karena khawatir perlawanan seperti itu akan ditiru kyai-kyai lain.***

 

Baca Juga :