Ini 6 Rahasia Negara Asia Timur dalam Mendidik Agar Anak Cerdas dan Berbakat

Ini 6 Rahasia Negara Asia Timur dalam Mendidik Agar Anak Cerdas dan Berbakat

Ini 6 Rahasia Negara Asia Timur dalam Mendidik Agar Anak Cerdas dan Berbakat

Asia Timur misalnya China, Jepang dan Korea selalu menduduki posisi teratas t

ingkat soal mutu pendidikan versi Programme for International Student Assessment (PISA).

Siswa berusia 15 tahun dari tiga negara Asia ini lebih unggul dalam Matematika dan Sains daripada siswa lain dari seluruh dunia.

Membesarkan anak yang pandai, sukses dan berbakat tentu menjadi impian setiap orang tua. Selain dukungan keluarga, tradisi dan budaya di negara tersebut ternyata juga memegang peran penting.

Dirangkum dari Brightside.me (29/6/2018), berikut rahasia sistem pendidikan Asia Timur yang menciptakan generasi cerdas dan berbakat.

Pendidikan akademik bukan yang paling penting

Dua tahun pertama anak-anak duduk di bangku sekolah, mereka tidak sekadar mencari nilai akademik.

Dalam periode ini, anak-anak belajar mengenal lingkungan, kedisiplinan, dan kerjasama.

Menghargai pengalaman pribadi

Baca Juga : Perlu Tidak Rangking bagi Anak? Simak Kata Pakar Ini

Tidak seperti sistem pendidikan Barat, orang Timur cenderung membebaskan anak-anaknya.

Jika anak mereka melakukan sesuatu yang berbahaya, orang dewasa hanya mencoba

mengalihkan perhatian ke hal-hal lain, bukan melarangnya.

Orang Asia Timur percaya, larangan dapat menghentikan minat anak untuk bereksplorasi.

Seorang anak tidak perlu dilarang, cukup diberitahu tentang bahaya dan alasan mengapa beberapa hal harus dihindari.

Anak-anak itu nantinya akan memiliki cara berpikir yang lebih kreatif, solutif dan taat aturan.

Tidak mementingkan diri sendiri

Jika orang Barat cenderung mengingatkan anaknya supaya tidak menyakiti diri sendiri, orang Asia Timur memperingatkan anaknya supaya tidak menyakiti orang lain.
Baca Juga : SD Marsudirini Maju Lomba Sekolah Sehat Tingkat Kota Solo

Sebelum usia 3 tahun, anak-anak diajarkan menghormati orang lain, menyayangi makhluk hidup termasuk hewan dan tumbuhan, kejujuran, dan rasa kepedulian.

Di Jepang, pendekatan ini dipercaya bisa menciptakan suasana yang harmonis dalam masyarakat dan lebih baik ditanamkan sejak anak-anak.

Belajar mandiri sejak kecil

Di Jepang dan Korea, anak-anak berusia enam tahun sudah mulai berangkat ke sekolah sendiri, tidak diantar orang tua.

Di negara-negara Asia, orang percaya, mengajar anak-anak menghitung pada usia dini mengembangkan lobus frontal otak dan mengembangkan kemampuan kreatif mereka.

Menekuni minat dan bakat sejak kecil

Setelah anak-anak belajar nilai dan norma dasar dalam masyarakat, akan anak-anak mulai mengikut pelajaran seperti berhitung, bahasa, menggambar, akting, menyanyi dan olahraga.
Baca Juga : Tingkatkan Kompetensi, Guru SDIT Nur Hidayah Dilatih Flipbook sebagai Bahan Ajar

Setiap anak biasanya punya minat dan bakat yang berbeda yang akan menentukan profesi mereka di masa depan.

Memberikan waktu memilih profesi dan menentukan masa depan

Sekitar usia 12-16 tahun, seorang anak dianggap dewasa sehingga bisa membuat keputusan sendiri. Mereka membuat keputusan sendiri dan bertanggung jawab atas diri mereka.

Tidak seperti di Barat, anak-anak pada usia ini biasanya terburu-buru memilih profesi saat mereka tidak siap. Ikatan keluarga sangat penting di sini.

Seorang anak dapat hidup dengan keluarga mereka selama yang mereka butuhkan. Namun, seringkali pada usia 14 tahun anak sudah tahu apa yang mereka inginkan dan dapat hidup sendiri.

 

Baca Juga :