KITA PERLU BELAJAR DARI SUKU BADUY

KITA PERLU BELAJAR DARI SUKU BADUY

KITA PERLU BELAJAR DARI SUKU BADUY

KITA PERLU BELAJAR DARI SUKU BADUY

Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri menegaskan komunitas adat memiliki kearifan lokal dalam melestarikan lingkungan dan mencegah bencana. Salah satu contoh konkrit komunitas adat yang masih bertahan adalah Suku Baduy.

“Kita perlu belajar dari masyarakat Baduy yang tinggal di hutan. Mereka tahu bagaimana memanfaatkan dan memeliharanya,” ujarnya melalui siaran pers di Jakarta,
Disebutkan, Suku Baduy hanya memanfaatkan sebagian lahan
hutan untuk berkebun dan permukiman. Sisanya tetap dilestarikan agar terhindar dari bencana longsor dan banjir.
Kemarin, Mensos mengunjungi Suku Baduy Luar di Kedu Ketuk, Jawa Barat. Dalam kesempatan itu Mensos memberi bantuan bahan bangunan rumah bagi 314 KK korban kebakaran tahun 2009 lalu di perkampungan Baduy Dalam senilai Rp3 miliar. Bantuan diterima langsung oleh Jaro Daena.
Sebelumnya di Kabupaten Pandeglang, Mensos menyerahkan bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) Kecamatan Majasari bagi 17.000 RTSM senilai Rp5,9 miliar. Mensos juga meninjau kantor pos yang kemarin menyalurkan bantuan kepada 865 RTSM senilai Rp 334 juta.

Tanggapan
mentri sosial sudah tanggap kepada masyrakat baduy.Walaupun suku baduy berada di daerah terpencil tetapi tidak Menutup kemungkinan untuk kita meniru gaya hidup mereka yang tahu bagaimana selalu memanfaatkan dan menjaga hutan agar tidak punah dan mencegah terjadi bencana alam akibat hutan.

ARTIKEL KE-2

Prilaku Hubungan Sosial dan Solidaritas Antar Teman pada Prilaku Gaya Hidup Remaja

Pada masa remaja, terdapat banyak hal baru yang terjadi, dan biasanya lebih bersifat menggairahkan, karena hal baru yang mereka alami merupakan tanda-tanda menuju kedewasaan. Dari masalah yang timbul akibat pergaulan, keingin tahuan tentang asmara dan seks, hingga masalah-masalah yang bergesekan dengan hukum dan tatanan sosial yang berlaku di sekitar remaja.

Hal-hal yang terakhir ini biasanya terjadi karena banyak faktor, tetapi berdasarkan penelitian, jumlah yang terbesar adalah karena “tingginya” rasa solidaritas antar teman, pengakuan kelompok, atau ajang penunjukkan identitas diri. Masalah akan timbul pada saat remaja salah memilih arah dalam berkelompok.

Banyak ahli psikologi yang menyatakan bahwa masa remaja merupakan masa yang penuh masalah, penuh gejolak, penuh risiko (secara psikologis), over energi, dan lain sebagainya, yang disebabkan oleh aktifnya hormon-hormon tertentu. Tetapi statement yang timbul akibat pernyataan yang stereotype dengan pernyataan diatas, membuat remaja pun merasa bahwa apa yang terjadi, apa yang mereka lakukan adalah suatu hal yang biasa dan wajar.

Minat untuk berkelompok menjadi bagian dari proses tumbuh kembang yang remaja alami. Yang dimaksud di sini bukan sekadar kelompok biasa, melainkan sebuah kelompok yang memiliki kekhasan orientasi, nilai-nilai, norma, dan kesepakatan yang secara khusus hanya berlaku dalam kelompok tersebut. Atau yang biasa disebut geng. Biasanya kelompok semacam ini memiliki usia sebaya atau bisa juga disebut peer group.

Kelompok atau teman sebaya memiliki kekuatan yang luar biasa untuk menentukan arah hidup remaja. Jika remaja berada dalam lingkungan pergaulan yang penuh dengan”energi negatif” seperti yang terurai di atas, segala bentuk sikap, perilaku, dan tujuan hidup remaja menjadi negatif. Sebaliknya, jika remaja berada dalam lingkungan pergaulan yang selalu menyebarkan “energi positif”, yaitu sebuah kelompok yang selalu memberikan motivasi, dukungan, dan peluang untuk mengaktualisasikan diri secara positif kepada semua anggotanya, remaja juga akan memiliki sikap yang positif. Prinsipnya, perilaku kelompok itu bersifat menular.

tanggapan
Seperti yang telah diuraikan diatas, kelompok remaja merupakan sekelompok remaja dengan nilai, keinginan dan nasib yang sama. Contoh, banyak sorotan yang dilakukan publik terhadap kelompok remaja yang merupakan kumpulan anak dari keluarga broken home. Kekerasan yang telah mereka alami sejak masa kecil, trauma mendalam dari perpecahan keluarga, akan kembali menjadi pencetus kenakalan dan kebrutalan remaja.
Tetapi, masa remaja memang merupakan masa dimana seseorang belajar bersosialisasi dengan sebayanya secara lebih mendalam dan dengan itu pula mereka mendapatkan jati diri dari apa yang mereka inginkan.

ARTIKEL KE 3

Sayangi Ginjal Kamu

Minum air putih kurang lebih 2 liter perhari, dianjurkan untuk minum air dalam kemasan karena kandungan zat-nya akan membantu mengurangi kerja ginjal. Bagi kamu yang sering berada di ruangan ber-AC jangan tunggu sampai kamu merasa haus, tetaplah minum air sesuai yang dianjurkan.
Untuk kesehatan ginjal, sebaiknya hindari minum soft drink ataupun energi drink karena itu akan memperberat kerja ginjalmu.
Jangan terlalu sering minum teh apalagi kopi, air biasa adalah yang terbaik.
Jangan terlalu menggampangkan minum obat terutama obat anti nyeri karena obat tersebut bisa merusak ginjalmu.
Bagi orang tua yang telah berumur lebih dari 40 tahun sebaiknya rajin medical check up, dianjurkan setiap 6 bulan sekali. Di situ antara lain akan diperiksa fungsi ginjal anda baik atau tidak. Sekiranya ditemukan gangguan atau penyakit ginjal akan cepat bisa ditangani.
Dan tahukah anda?
Penderita penyakit gagal ginjal harus di cuci darah (hemodialisa) minimal 2 kali seminggu seumur hidup.
‘Minimal’ biaya yang mesti dikeluarkan pada sekali cuci darah adalah 7 ratus ribu-an rupiah, bahkan di Jepang bisa sampai 5 juta sekali cuci darah. Untuk sebulannya bisa sampai 8 juta-an, setahunnya kamu bisa hitung sendiri.
Biaya untuk cangkok ginjal minimal 300-jutaan, belum cari donor ginjalnya yang susah. Bukan saja dari segi biaya tapi juga menemukan ginjal yang cocok tidaklah mudah. Selain itu kamu mesti mengeluarkan biaya untuk minum obat seumur hidup setelah di cangkok ginjal minimal 4 jutaan per bulan.
Tanggapan
Ginjal adalah salah satu anugerah terbesar yang diberikan oleh Tuhan dan tidak bisa dinilai dengan uang.
Nah sekarang, masihkan kamu tidak menyanyangi ginjalmu?

Sumber : https://profilesinterror.com/