Media Arus Utama kian Dibutuhkan

Media Arus Utama kian Dibutuhkan

Media Arus Utama kian Dibutuhkan

KEHADIRAN media sosial yang mulanya dianggap sebagai wahana baru bagi publik mengekspresikan pendapat dan memproduksi informasi kini menunjukkan tren negatif karena justru dipenuhi hoaks, ujaran kebencian, dan sentimen permusuhan antarsesama anak bangsa. Media arus utama seperti surat kabar dan televisi pun kian dibutuhkan.

Pendapat itu mengemuka dalam Seminar Nasional Peran Media Massa di Era Demokrasi Digital yang digelar The Habibie Center di Jakarta, kemarin. Pengamat media, Agus Sudibyo, mengatakan media sosial saat ini justru menampilkan ancaman bagi demokrasi. Hal itu tak hanya berlaku di negara-negara Barat seperti AS dan Eropa, tapi juga di Indonesia.

Medsos, ujar Agus, kini lebih dimanfaatkan untuk kepentingan politik memecah belah anak bangsa.

“Yang muncul di media sosial kita ialah caci maki dan permu-suhan.

Media jurnalistik kian revelan saat ini di tengah derasnya hoaks. Kita makin membutuhkan institusi jurnalistik. Media sosial nyatanya tidak bisa menggantikan pilar demokrasi keempat yang diemban pers,” ungkap anggota Dewan Pers periode 2019-2022 itu.

Menurutnya, medsos kini banyak dibanjiri informasi yang tidak bisa

dipertanggungjawabkan kebenarannya. Dia mengingatkan media arus utama untuk tidak mengikuti tren arus informasi yang beredar di medsos. “Problem media massa sekarang ialah justru mengikuti tren informasi dan isu di media sosial yang cenderung spekulatif. Ini harus dihindari.”

Menurut dosen ilmu komunikasi Universitas Mercu Buana Jakarta Afdal Makkuraga Putra

, medsos terbukti belum bisa efektif memberi sumbangsih positif bagi demokrasi Indonesia. Polarisasi masyarakat yang terbentuk melalui medsos justru kian mengeras. Hoaks dan ujaran kebencian pun terus muncul.

 

sumber :

https://apkmod.co.id/