pertanyaan tentang shalat khusyu

pertanyaan tentang shalat khusyu

pertanyaan tentang shalat khusyu

pertanyaan tentang shalat khusyu

Sekarang timbul beberapa pertanyaan tentang shalat khusyu ini :

1) Apakah khusyu hanya bisa diraih dengan tehnik shalat yang benar?
Membicarakan tehnik shalat yang benar merupakan hal yang rumit, karena pada mazhab Ahlu Sunnah Wal Jamaah memiliki banyak versi yang mengatur madzhab, umpamanya madzhab Syafii, Maliki, Hambali dan lain-lain
Jadi, shalat khusyu bisa diraih sesuai dengan tehnik yang benar yang sesuai mazhabnya.

2) Bagaimana Shalat yang benar?
Shalat sesuai dengan Madzhab yang dianut yang tersebut didalam hadits-hadits shahih dan mendatangkan Allah dalam ibadahnya.

3) Sebenarnya yang pas dan tepat itu kondisi khusyu dahulu baru mendirikan shalat atau sholat dulu untuk mencapai khusyu.
Karena sholat adalah ungkapan sang Kholik untuk berkomunikasi dengan mahluknya, maka sebaiknya masuk ke state khusyu (ihsan) dulu baru shalat. Bukankah dalam berkomunikasi sebaiknya kita mengikuti sesuai dengan lawan bicara kita (komunikan)? (Maaf saya menggunakan bahasa neurology, ini hanya untuk memudahkan komunikasi sesuai jaman sekarang). Bukankah Allah itu Ad Dhohiru dan sekaligus Al Bathinu, artinya selain dengan bahasa kasat (oral) dalam kesadaran juga kita tambahkan komunikasi bathin (hati) atau subconsiousness.

Apabila kondisi kita masih dalam posisi betha dipaksa masuk alpha/theta dihawatirkan bagi yang belum berpengalaman sulit sampai tahap AH-HA. Tahap betha adalah tahap dimana otak kiri masih bekerja aktif. Tahap alpha/theta adalah tahap dimana dalam posisi rilek, dan spiritual berada. Apabila kita sudah masuk states ini lebih awal maka komunikasinya mudah nyambung. Ini dapat dirasakan sendiri.

4) Apakah kondisi khusu itu berupa kondisi nangis ngejer dan berakhir dengan merasakan kenikmatan?
Menurut hadis, ketika ditanyakan kepada Sayidina Ali tentang apa yang disembahnya, Sayidina Ali menjawab “Bagaimana mungkin saya menyembah Allah yang tidak terlihat?”.
Jadi, khusyu adalah menghadirkan Allah menjadi REAL (ihsan). Bukan nangis atau nikmat karena keduanya adalah fenomena di alam rasa saja. Tapi bahkan meningkat lebih dalam lagi.

5)Apakah esensi/spirit dari sholat itu?
Esensinya mengingat Allah, dan menghadirkan Allah Taala sebagai sesembahan kita.

6) Pertanyaan terakhir, shalat khusyu itu duduknya di awal, di tengah atau di akhir dalam tehnik shalat?
Shalat khusyu itu merupakan kesadaran kita yang di mulai sejak awal, sejak dari mendengar adzan, berwudhu, sampai sholat itu sendiri berakhir. Dari Dhikir ke Dhikir, itulah esensi dari penciptaan jin dan manusia “Tidak kuciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah”. Kenapa Adzan juga termasuk? Karena adzan adalah dhikr, kenapa wudhu termasuk? Karena wudhu adalah penyucian jiwa dan raga, selain badan hatinya juga dibersihkan biar suci, rasa wudhu itu sebaiknya juga dirasakan oleh hati. Dengan hati yang bersih maka komunikasi dengan Allah akan mudah terhubung dibandingkan dengan hati yang berselimutkan kotoran (crosstalk).

Untuk itu kesadaran kita berhubungan dengan Allah Ta’ala harus terbangun. Hal ini memang tidak mudah karena kesadaran berhubungan dengan hati atau qalbu sedangkan qalbu sifatnya turun-naik (labil). Yang dimaksud kesadaran adalah kondisi terjaga (tidak pingsan), mampu melihat dan merasakan hakekat sesuatu kejadian. Bisa mengambil makna di balik kejadian. Dia juga paham bahwa sesuatu kejadian itu bukan sesuatu yang kebetulan terjadi. Dia berhasil ”melihat”, ”memahami” bahkan ”merasakan” bahwa ada sesuatu kekuatan (qudrat iradat Allah) yang hadir di balik kejadian.

Akhirul kalam, Rasullullah SAW telah berhasil ’Bertemu’ dengan Allah dalam perjalanan isra mi’aj. Beliau mengajarkan kepada kita untuk bertemu Allah melalui shalat, maka tidaklah ada yang tidak mungkin bagi kita untuk melakukan shalat khusyu. Di dalam shalat khusyu itulah seluruh kesadaran memuncak yang akan menghantarkan kita berhadapan langsung dengan Allah Ta’ala.

Sumber : https://bingo.co.id/