Terdampar di University of Aberdeen

Terdampar di University of Aberdeen

Terdampar di University of Aberdeen

Kali ini saya akan ceritakan bagaimana Tuhan melalui alam semesta bekerja secara misterius mengarahkan hidup saya, dan bagaimana saya berusaha menerima dan mengalir dengan arahan tersebut.

Pada waktu itu, sebelum memutuskan berangkat ke Aberdeen, saya mengalami konflik yang luar biasa.

Saat itu saya sudah mengantongi LOA (letter of acceptance) dari Australian National University untuk bidang studi Master of Finance, dan MBA in Energy Management dari University of Aberdeen. Saya memang tertarik dengan bidang bisnis & finance, dan latar belakang saya di sektor energi membuat saya memilih studi yang terkait sektor energi.

Saat itu pilihan kampus saya sebagian besar hanya ada di Inggris, karena izin meninggalkan kerja tanpa gaji dari kantor maksimal hanya 18 bulan (bisa ditambah 24 bulan dengan justifikasi). Lama studi program master di Inggris kebanyakan hanya 1 tahun. Baik itu coursework (tanpa thesis) maupun by research (semester akhirnya membuat thesis). ANU satu-satunya program terkait bisnis dan finance di Australia yang lama studinya 18 bulan.

Kampus yang saya gunakan untuk mendaftar beasiswa adalah UoA dengan bidang studi MBA yang berfokus di Energy Management. Pada tahun 2016, masih sangat sedikit kampus yang menawarkan program studi tersebut, dan Aberdeen merupakan kampus yang terkenal sebagai pusatnya migas di Eropa.

Ketika saya sudah mendapat beasiswa, beberapa bulan kemudian saya mendapat LOA dari University of Edinburgh MSc of Finance (specialization in Energy Sector). program MBA hanya menyediakan 3 mata kuliah terkait finance. Sementara MSc lebih fokus ke finance. Sehingga saya ingin mengubah tujuan studi saya ke University of Edinburgh.

Masalahnya, jika saya mengubah tujuan studi, maka saya akan menggunakan dasar kontrak baru. Dalam kontrak baru, tidak ada klausul tunjangan keluarga… Saya merupakan bapak dari 1 anak dan suami dari 1 istri, dengan cicilan KPR yang masih berjalan.

Beasiswa tanpa tunjangan keluarga artinya saya harus pergi sendiri dan hidup berhemat di luar untuk menghidupi keluarga yang saya tinggalkan di Indonesia.

Waktu itu ego saya menguat. Saya ingin belajar finance. Apalagi, University of Edinburgh saat itu ranking 50 besar dunia, sementara UoA nyaris ranking 200 dunia (sekarang sudah naik ke 158). Ego saya sangat kuat. Saya harus jadi lebih baik dan saya harus menguasai finance.

Namun, istri saya menolak pilihan saya. Akhirnya, setelah melalui perdebatan sengit, dengan berat hati saya memilih berangkat ke UoA. Dengan pilihan ini, saya bisa memberikan kesempatan bagi anak saya ikut bersekolah di Inggris. Sebuah kesempatan yang sangat langka. Mungkin sekarang sudah banyak anak-anak yang bisa jalan-jalan ke luar negeri, namun untuk sekolah, mereka butuh visa tinggal di luar negeri. Anak saya bisa mendapatkan itu dengan Visa dependent. Dengan pilihan ini, maka ada 2 anak Indonesia yang bersekolah di Inggris. Saya dan anak saya.

Sifat saya dari dulu adalah, jika itu bukan pilihan saya, maka saya tidak akan menjalankan dengan sepenuh hati. Walaupun mata kuliah pertama yang saya hadapi di sana kebetulan sangat relevan dengan pekerjaan saya.

Coursework pertama saya adalah membuat laporan analisis investasi jangka panjang dan operasional untuk perusahaan migas yang akan ekspansi ke offshore dengan keterbatasan harga minyak rendah, dilakukan baik dalam kelompok maupun secara individu. Saat itu saya hanya melihat faktor teknis saja. Analisis investasi dan operasi, termasuk bagaimana mengelola aliran kas dari utang. Namun rupanya, ada faktor non-teknis dari coursework tersebut. Misalnya, bagaimana saya bekerja dalam sebuah tim analis, dan bagaimana saya menyampaikan analisis saya ke manajemen. Analisis saya bisa mendalam dan detail, namun untuk tingkatan strategis, saya harus bisa mengkomunikasikan analisis saya dalam tataran strategis dengan cara komunikasi yang ringkas dan padat.

Selanjutnya, kuliah saya memberikan sekitar 30% bobot pengembangan non-kognitif, 40% bobot analisis kritis, dan 30% penerapan di bisnis (sudah saya bahas di tulisan saya sebelumnya). Rupanya, saya belajar banyak sekali ilmu yang saya butuhkan. Itu adalah ilmu non-kognitif.

Setelah menjalani kuliah dengan penuh penolakan. Akhirnya saya paham bahwa perbedaan MBA dan MSc adalah pengembangan kemampuan vokasional untuk level manajemen puncak, dalam hal ini terutama non-kognitif. MSc mendalami aspek keilmuan dan teknis. Sementara MBA menyeimbangkan kognitif dan non-kognitif seperti mengembangkan kepemimpinan, komunikasi, mendengarkan, menghadapi tekanan, memahami faktor2 yang mendorong tindakan manusia, politik organisasi dan bisnis, atau pemicu stres.

Di akhir perkuliahan, saya menyadari bahwa jika saya pergi ke Edinburgh, saya akan tambah pintar di bidang keilmuan namun saya bisa jadi tambah sembarangan bertindak, mungkin malah semakin membesarkan ego saya. Pada dasarnya saya adalah seorang ENTP, kognitif saya jauh lebih utama daripada non-kognitif.

Rupanya, Tuhan memberikan apa yang saya butuhkan, bukan apa yang saya inginkan.

Apalagi, Tuhan juga memberikan saya waktu untuk berkumpul dan berpetualang bersama keluarga kecil saya. Suatu hal yang sejak saya menikah merupakan suatu hal yang saya abaikan. Selama ini yang ada dalam pikiran saya hanya bekerja, menyelesaikan masalah pekerjaan, dan membuat suatu hal yang lebih baik. Hingga pernah suatu ketika anak saya yang masih belum genap 3 tahun ikut duduk di ruang rapat lantai 28 sekitar pukul 19.30 malam. Hanya karena saya dan istri saya harus kerja lembur.

Semuanya kelihatan kebetulan, namun Tuhan sungguh membuka mata saya dan membuat saya percaya bahwa apa yang terjadi di dunia ini adalah kehendak-Nya. Hidup ini jauh lebih besar daripada urusan keilmuan atau masalah pekerjaan.

Entah kebetulan lagi, penemuan saya atas makna hidup ini sejalan dengan motto UoA: Initium Sapientiae Timor Domini, yang artinya, takut akan Tuhan adalah awal dari kebijaksanaan

Sumber : https://uptodown.co.id/